+ Dengan nama Allah +

Dan orang yang sabar kerana mencari keredhaan Tuhannya, mendirikan solat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami nafkahkan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik.
Surah Ar-Rad : Ayat-22

Monday, January 19, 2009

Sudah Terujikah Iman Kita?

Bismillah..

Tazkirah untuk diri sendiri, memujuk hati pengubat jiwa, insyaAllah semoga sama-sama dapat mengutip manfaat darinya, entri kali ini istimewa di copy paste (bukan nukilan dan bebelan saya sendiri) dan edit sedikit sebanyak. Antara faktor saya berminat untuk copy paste artikel ini adalah kerana perkongsian yg menarik di dalamnya dan mungkin juga kerana saya ingin mengubat hati, haih..(demam mode) dan juga melunaskan janji saya dalam entri "Cinta Pertama Hirisan Pertama"..semoga mendapat manfaat.


Hubungan Antara Ujian dan Iman

Pada kesempatan kali ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam surah Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahawa salah satu kesinambungan pernyataan iman kita, adalah kita mesti bersiap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekadar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan seketika, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mahu menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10:

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (kerana ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?”

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Syurga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Al-Kahfi 107).

Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Syurga tanpa melewati ujian yang berat.

“Apakah kamu semua mengira akan masuk Syurga sedangkan belum datang kepada kalian cubaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cubaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang- orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah
214).

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada sahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu

“Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) tergelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya.” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).


Apakah Bukti Keimanan Kita?

Cubalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita?

Cubaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita?

Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita?

Bila kita memperhatikan perjuangan Rasulullah Shallallaahualaihi wa salam dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, dan betapa pengorbanan mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu.

Rasanya iman kita ini belum seberapa atau bahkan tidak ada ertinya bila dibandingkan dengan iman mereka.

Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sedangkan pengorbanan kita sedikit pun belum ada?


Jenis-Jenis Ujian

Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeza-beza. Dan ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-tidaknya ada empat jenis ujian yang telah dialami oleh para Nabi dan umat yang terdahulu dari kita:

Yang pertama:

Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Ash-Shaffat 106)

Dan di sini kita melihat bagaimana kualiti iman Nabi Ibrahim Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat berat itupun dijalankan. Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan
puteranya adalah pelajaran yang sangat berat itupun dijalankannya.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita teladani, kerana sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berikan untuk tidak melaksanakannya.

Sebagai contoh, Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membezakan antara wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya:

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59).

Namun kita lihat sekarang masih banyak wanita Muslimah di dunia Islam khususnya tidak mau memakai jilbab dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kekampungan, tidak moden, atau beranggapan bahawa jilbab adalah bahagian dari budaya bangsa Arab. Ini pertanda bahawa iman mereka belum lulus ujian.

Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam sabdanya:

“Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti pundak unta, mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium wanginya”. (HR. Muslim, Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayyan, juz 14 hal. 109-110).

Yang kedua:

Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan cantik, isteri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah.

Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualiti imannya, ia berjaya meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda, umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini ertinya ia telah lulus dalam ujian ke atas imannya.

Sikap Nabi Yusuf Alaihissalam ini perlu kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan ubat-ubatan terlarang sudah meresapi berbagai lapisan masyarakat, sehinggakan anak-anak yang masihduduk di bangku sekolah rendahpun sudah ada yang ketagihan.

Perzinaaan sudah seakan menjadi perkara biasa bagi para pemuda, sehingga tak hairan bila menurut sebuah kajian oleh ahli akademik, mendapati bahawa di bandar-bandar besar ramai remaja perempuan sudah tidak perawan lagi.

Akibatnya setiap tahun berapa ramai bayi dibunuh dengan cara pengguguran, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan ini diparahkan lagi dengan semakin banyaknya media cetak yang berlumba-lumba mempamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara yang sengaja dirancang untuk membangkitkan ghairah seksual para remaja. Pada saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf Alaihissalam perlu ditanamkan dalam dada para pemuda Muslim.

Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya :

“Tujuh (orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).


Yang Ketiga:

Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tiada yang tinggal sedikitpun untuk membiayai pengubatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama lapan belas tahun, sampai pada ketika yang sangat sukar sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).

Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghentamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52).

Begitulah ujian Allah kepada NabiNya, masa lapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam membuktikan keteguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa derita dan tidak terdetik pada hatinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara-saudara kita yang sangpgu menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekampit beras dan sehelai kain pelikat, kerana tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub Alaihissalam ini.

Yang keempat:

Ujian menangani orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam. Apa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa salam dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai ujian berat yang menuntut pengorbanan harta benda
bahkan nyawa.

Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam di akhir tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam untuk dibunuh. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. (DR. Akram Dhiya Al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 182).

Juga apa yang dialami oleh para sahabat tidak kurang beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir Radhiyallahu ‘anhu dan isterinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah di Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah kehangatan matahari, kemudian diarak oleh anak-
anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155).

Dan masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendurkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.

Musibah yang dialami oleh saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang, khususnya di Semenanjung Ghazah, di Palestin akibat kezaliman, kejahatan orang-orang kafir Yahudi, adalah ujian dari Allah kepada umat Islam di sana, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di negara-negara lain.

Umat Islam di rantau sini khususnya sedang diuji sejauh mana ketahanan iman mereka menghadapi serangan orang-orang yang membenci Islam dan kaum Muslimin hanya kerana mereka mengatakan: ( Laa ilaahaillallaahu ) ُﷲﺍ ﱠﻻِﺇ ﻪﹶﻝِﺇ ﹶﻻ, tidak jauh berbeza dengan apa yang dikisahkan Allah dalam surat Al-Buruj ayat 4 sampai 8:

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan kerana orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Peristiwa seperti inipun mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Allah.
Kita berdo’a mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin.

Penutup

Dan semoga umat Islam yang lain, juga kita semua dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, kerana dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad: 7).

Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yakin bahawa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cubaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa redha baginyalah keredhaan Allah, dan barangsiapa marah baginya hanyalah kemarahan Allah.” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).

Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita. Amin .

Sekian, wallahua'alam.


Nota Kaki: Tulisan yang anda baca ini adalah sebahagian Siri Khutbah Jumaat.

2 comments:

Adawiyah said...

Kita memang diuji setiap hari. Tapi bagaimanakah kita mengendalikan ujian-ujian itu? Ya, memang betul bahawa Allah akan berikan kita dugaan yang mampu di kendalikan oleh kita kerana Allah Maha Mengetahui.

Sebab itulah kita kena sentiasa bersangka baik dengan Allah. Apabila kita meminta Allah untuk berikan kita sikap berani, Allah akan memberikan kita ujian supaya kita menjadi berani dengan ujian itu. Rupa-rupanya Allah mendidik kita dengan begitu halus sekali. Cuma kita tak sedar...

=)

I like your entry.

By the way, saya link kepada kak AsNiza ya. =D

Rasanya akak tak boleh komen saya sebab akak punya browser tak benarkan pop-up window.

hanim yusra said...

slam..
terima kasih atas artikel ini..
walaupun ana tak abis baca..tapi,sudah cukup memberi kesedaran terhadap diri ini..hmm..nuhassilu biha birridho..wallahu'alam..